Pagoda di Vihara Buddhagaya Watugong Semarang


 

 

Vihara Buddhagaya Watugong

Vihara Buddhagaya Watugong

Menurut sejarah vihara ini merupakan Vihara pertama di Indonesia setelah keruntuhan kerajaan Majapahit. Pada tahun 1955 YM Bhante Narada dan Bhante Ashin meresmikan vihara tersebut.

Saat kedatangan YM Narada di Indonesia, beliau sempat menanam pohon Bodhi (hasil cangkokan dari Bodhgaya, India) di dua tempat  di yaitu Candi Borobudur dan Vihara Watugong. Namun yang di candi Borobudur sudah dimusnahkan karena dianggap merusak bangunan candi.

Vihara ini sempat terlantar selama kurang lebih 8 th namun sekarang bangkit kembali dibawah binaan Sangha Theravada Indonesia. Di vihara ini pula nantinya akan dibangun Buddha rupang setinggi 36 meter yang terbuat dari perunggu.

Vihara Buddhagaya Watugong terletak 45 menit dari pusat kota Semarang. Vihara ini memiliki banyak bangunan dan berada di area yang luas. Salah satu ikon yang paling terkenal di vihara ini adalah Pagoda Avalokitesvara (Metta Karuna), dimana didalamnya terdapat Buddha Rupang yang besar, hanya saja pagoda ini tidak terdapat anak tangga untuk menuju ke puncak pagoda.

Disebelah pagoda ini terdapat relief Buddha sedang tidur dan tetap depan sebelah kanan terdapat rencana pembangunan patung buddha perunggu setinggi 36 meter, namun sejak peresmiannya pada 14 Juli 2008, kami tidak melihat tanda-tanda pembangunan, menurut info bahwa pembangunan ini tertunda karena Pemerintah Kota Semarang belum memberikan izin untuk pembangunan patung buddha perunggu ini, semoga Pemerintah kota dapat segera memberikan izinnya.

Setelah menuruni lokasi tempat rencana buddha perunggu, maka kita akan menemui kuti bhikkhu dan kemudian depannya terdapat cotage untuk para tamu bermalam. Tepat di depan cotage ini kita menjumpai Bangunan Dhammasala. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, lantai dasar digunakan untuk ruang aula serbaguna yang luas dengan sebuah panggung didepannya sedangkan lantai atas untuk ruang dhammasala. Hanya saja saat menuju dari lantai ruang aula ke ruang dhammasala, kita harus memutar dari luar sebab tidak ada tangga yang langsung sebagai penghubung. Kesulitan ini mengakibatkan apabila terjadi hujan maka yang berada di lantai dasar pasti kehujanan bila ingin menuju ke dhammasala serta bila ingin menuju toilet harus turun memutar ke lantai dasar. Pada bagian tembok pagar disekeliling dhammasala terdapat relief yang menceritakan tentang paticasamupada. Dengan melihat relief ini kita akan lebih mudah memahami konsep paticasamupada.

Pagoda Kwan Im, bangunan yang terdapat di kompleks Vihara Buddha Gaya Watugong ini mempunyai nilai artistik tinggi 39 meter. Dibangunan tahun 2005 dan terletak persis di depan Makodam IV/Diponegoro Semarang. Bangunan yang mempunyai tujuh tingkat ini terdapat patung Dewi Welas Asih dari tingkatan kedua hingga keenamnya. Namun sedikitnya 20 patung Kwan Im dipasang di Pagoda tersebut. Pemasangan Dewi Welas Asih ini disesuaikan dengan arah mata angin. Hal ini dimaksudkan, agar Dewi yang selalu menebarkan cinta kasih tersebut bisa menjaga Kota Semarang dari segala arah.

Bangunan yang merupakan pelengkap ruang Metta Karuna di Vihara Avalokitesvara Srikukusrejo Gunung Kalong dan memiliki seni arsitektur yang sangat tinggi ini adalah salah satu kebanggaan warga Kota Semarang pada khususnya, dan Jateng pada umumnya. Karena, saat ini pengunjung Vihara Buddha Gaya tidak hanya umat Budha saja, tapi juga umat agama lain dan sangat cocok untuk dijadikan salah satu tujuan wisata religius. Meski pagoda ini yang tertinggi di Indonesia, namun pagoda lain juga terdapat di Madiun, Singkawang dan Lembang. Jadi, Pagoda ini bukan satu-satunya di Indonesia

Selain itu Pagoda Kwan Im Watugong terdapat juga Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong tempat ini tak jauh dari lokasi Pagoda Kwan Im, hanya terus ikuti arah Jogja-Solo 2 KM setelah Polres Semarang, Ungaran tepat di sebelah kanan jalan terdapat ada papan nama bertuliskan Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong.

Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong ini berawal dari sebuah tempat pertapaan yang konon pernah disinggahi oleh Kiai Ageng Pandanaran untuk bermalam yang pada waktu itu salah satu bekal perjalanan Kiai Ageng Pandanaran kelong yang berarti kurang (berkurang) karena dicuri yang akhirnya tempat tersebut dinamakan Gunung Kalong.

Dari sebuah ilham yang didapatkan dari pertapaan seorang spiritual dari Ambarawa, Joyo Suprapto, dimana waktu itu beliau saat bertapa ditempat tersebut mendapatkan sebuah ilham untuk membangun sebuah vihara di tempat pertapaannya tersebut hingga akhirnya tempat ini atau sekarang bernama Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong mulai dibangun sekitar tahun 1963 dan pada 12 Juli 1965 tempat tersebut mulai dibangun vihara dan diresmikan oleh Pemerintah dan hingga saat ini dikelola oleh Yayasan Sri Kudusrejo.

 

welas-asih

 

 

napsu-makan

 

 

kelahiran

 

 

orang-tua

 

 

tua dan kematian

Tepat pada tanggal tertentu terutama saat ulang tahun Vihara pada tanggal 12 Juni, tempat ini selalu ada kegiatan atau agenda doa-doa yang dihadiri oleh banyak kalangan dari dalam hingga luar negeri terutama bagi yang beragama Budda. Misalnya ketika acara berdoa bersama memperingati Makco Kwan Im Poo Sat naik ke atas nirwana ketika sudah meninggalkan sifat duniawi dan menemui Sang Budha hingga turun lagi ke Bumi dengan membawa berkah bagi umat manusia. Selain Makco Kwan In juga saat memperingati Kathina, dimana semua umat yang mengikuti ritual doa kepalanya diperciki air. Sembari umat memancatkan doa-doa, seorang Bante berjalan menghampiri umat satu persatu untuk memercikkan air di kepalanya. Percikan air di kepala itu dipercayai untuk keselamatan para umat.

 

upacara

Dibalik semua agenda religius, Vihara Avalokitesvara ini juga berhasil memecahkan beberapa rekor Muri dengan pembuatan replika ikan koki terbesar berukuran panjang 36 meter, tinggi 20 meter, dan lebar 16 meter. Rekor tersebut merupakan kali kedelapan setelah sebelumnya memecahkan rekor Muri untuk pembuatan lampion terbanyak (2002), replika naga terbesar (2003), teratai suci memecahkan tiga rekor (2004), dan replika ayam emas (2005). Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong ini sendiri selain tempat ibadah juga merupakan tempat mendapatkan konsultasi untuk segala persoalan dari mulai perjodohan, bisnis, keluarga dan lainnya yang tidak terbatas soal keagamaan saja, bahkan ada beberapa peziarah justru berasal dari kalangan. Jadi jika anda mengalami kesulitan jodoh, bisnis atau masalah lain, Suhu The Tjoe Thwan akan selalu bersedia membantu.