INDAHNYA MAZMUR 23


Mazmur 23 adalah salah satu Mazmur yang sangat banyak dikhotbahkan dan dikutip oleh para pengajar, penginjil dan orang Kristen. Mengapa? Karena di dalam Mazmur ini, terdapat bukan saja kata-kata yang indah sebagaimana layaknya puisi Orang Ibrani, melainkan mengandung kekayaan teologis yang tidak ternilai tentang janji pemeliharaan Tuhan atas umatNya.

Mazmur ini ditulis oleh Daud dan digolongkan ke dalam mazmur nyanyian. Disebut demikian karena Daud menyusun puisi ini sebagai ekspresi murni berupa ucapan syukur atas pemeliharaan Tuhan di dalam dan sepanjang hidupnya. Daud merasa bahwa tanpa Tuhan, dia bukan apa-apa ! Keyakinan yang samalah, yang seharusnya menjadi alasan dan mendorong kita untuk terhubung pada Tuhan, sebagaimana Daud telah melakukannya.
Kita akan belajar mengenai menjadi ungkapan isi hati Daud di dalam Mazmur 23.

Tuhan adalah Gembalaku …
Pertanyaan kritis yang datang kepada kita adalah bukan mengapa saya selalu kekurangan, tetapi apakah Allah sudah menjadi gembala kita. Gembala berarti dia yang berotoritas menuntun kita dan kita membiarkan dirinya menuntun kita. Penyerahan kita menunjukkan bagaimana kita membiarkan kedaulatan Allah yang mengatur langkah dan arah hidup kita dan bukan diri kita sendiri. Ketika Ia menjadi Gembala berarti Ia punya rencana bagi perjalanan hidup kita dan Ia menjamin bahwa bersama Dia rute seperti apapun bukan halangan bagi-Nya untuk menuntun kita.

Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia
Jaminan perlindungan ditunjukkan melalui kata ‘membaringkan’ dan ‘membimbing ke air yang tenang’. Disamping perlindungan juga apa yang disediakan bagi kita adalah sesuatu yang benar-benar luar biasa dalam ukuran-Nya. Rumput adalah rumput yang hijau yang benar-benar menunjukkan bahwa Allah mengerjakan yang paling baik. Air yang tenang adalah air yang tidak member ancaman tetapi justru menjawab kebutuhan. Bagaimana dengan kita? Seringkali kita mengambil keputusan yang salah di dalam hidup dan melalui jalan yang menurut kita benar. Akibatnya, sejumlah konsekuensi telah menanti untuk kita tanggung. Hal itu terjadi karena kita meninggalkan Tuhan dan bertindak sendiri. Dalam kelelahan karena menjalani hidup dengan sejumlah persoalannya, kita dapat semakin ‘tenggelam’ sewaktu meninggalkan Tuhan. Energi menjadi terkuras habis dan kita tidak mendapat tempat dimana kita disegarkan kembali. Itulah konsekuensi jika tidak terhubung dengan Tuhan. Sebaliknya, dalam kelelahan dan segala daya yang mungkin terkuras habis, Tuhan memberikan satu tempat yang mere-fresh kita kembali dan mengarahkan ‘jalan’ hidup kita yang mungkin melenceng. Tuntunannya bukan saja dengan mengandalkan kekuatan-Nya tetapi arah yang benar adalah juga jaminan yang Ia berikan. Nama Allah mengandung  janji dan kesetiaan serta kekuasaan untuk menggenapinya.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau
Melalui puisi tersebut Daud bahkan membeberkan bahwa Allah yang ada bersama-sama dengan dia tersebut memiliki gada, senjata yang digunakan di dalam pertempuran satu lawan satu, jarak pendek, dan meneguhkan bahwa di dalam situasi yang unpredictable itu, otoritas (dilambangkan dengan tongkat), berada di tangan Allah.

Jalan yang benar sering digoda oleh Iblis dengan berbagai tantangan agar kita mempersalahkan Allah mengapa Ia membawa kita ke jalan ini. Tetapi Allah mengijinkan hal itu sebagaimana Ia menuntun Anak-Nya sendiri ke padang gurun untuk dicobai (Mat 4). Tetapi hal itu semata-mata bukan untuk menghancurkan hidupku tetapi lewat cara itu aku akan melihat:
a. Gada dan tongkat itu Ia miliki.
b. Gada dan tongkat yang Ia miliki sungguh berfungsi melindungi aku.

Tanpa kesulitan maka aku tidak akan pernah melihat gada dan tongkat. Gada dan tongkat bisa bermakna banyak:
1. Bisa berarti kuasa.
2. Bisa berarti firman Allah.
3. Bisa berarti janji.
4. Bisa berarti pertolongan.

Engkau menyediakan hidangan bagiku, dihadapan lawanku; Engkau mengurapi
Ternyata ketenangan yang diberikan Tuhan bukanlah pada saat aku berada di padang yang berumput hijau dan air yang tenang tetapi juga pada saat di hadapan lawan-lawanku. Bahkan lawan-lawan sendiri tidak mampu berbuat apa-apa ketika Allah menjamu aku. Menjamu berarti ketika Allah berurusan secara pribadi dengan kita dan kita berada dalam perlindungan-Nya maka Iblis hanya akan menatap tetapi ia tidak bisa menjamah kita.

Perkenanan-Nya ditunjukkan melalui pengurapan-Nya sehingga aku menjadi orang pilihan-Nya, pejuang-Nya, sehingga itulah yang menjadikan aku selalu bersyukur dengan mengangkat piala yang selalu penuh melimpah.

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku.
Bagaimana dengan kita? Orang yang seperti ini artinya orang yang pergi kemanapun, selalu diikuti dengan hal-hal baik dan berhadapan dengan kemurahan. Apa yang dikerjakannya menjadi baik dan mendatangkan berkat. Sementara orang lain menemukan kesialan, atau diikuti dengan kegagalan, kita sebaliknya. Pernahkah anda membayangkan, sementara orang lain berusaha dan gagal, anda justru mencoba sedikit tetapi berhasil. Sementara orang lain mendapat hukuman atas kesalahan yang dilakukannya, anda malah diperingan. Sementara orang lain berhadapan dengan pintu yang tertutup, saat anda lewat justru pintu-pintu menjadi terbuka. Bukankah ini sangat luar biasa?

Dan aku akan diam di dalam rumah Tuhan sepanjang masa.
Ini adalah sebuah kerinduan. Rumah Tuhan pada waktu itu adalah bait suci. Di dalam rumah-Nya, Tuhan berdiam. Siapa yang berada di dalam rumah-Nya, itulah yang bertemu dan bergaul dengan Dia. Kerinduan Daud terungkap di dalam perikop ini bahwa Tuhan menjadi segala-galanya di dalam hidupnya. Banyak orang menggambarkan ayat ini sebagai penutup eskatologis. Tetapi, tidak seperti itu. Rumah Tuhan yang dimaksud Daud adalah bangunan Bait Allah yang tak kunjung terwujud selama masa pemerintahannya.

So indah bukan? Tidak bosan-bosannya saya memperkatakan Mazmur 23 ini!